THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Senin, 27 April 2009

penggemar KLX siap kecewa



Bagi yang sudah lama menantikan datangnya "mini" KLX250 nampaknya harus siap-siap kecewa

KLX 150 yang berbasis KLX 140 itu ternyata tidak sama persi dengan KLX 140 versi Amerika atau Jepang, paling tidak dalam hal kualitas barang. Yang terlihat sama persis adalah sektor mesin dan suspensi. Sedangkan rangka, arm, pelek, ban, dan stang berbeda jauh kualitasnya dengan KLX 140 versi USA. Jika arm dan pelk KLX 140 versi USA terbuat dari alloy yang ringan namun kuat, untuk KLX 150 versi Indonesia itu terbuat dari besi.

Las di rangka KLX 150 juga terlihat kasar, beda dengan yang versi USA atau Jepang. Ban KLX 150 memakai merk lokal IRC, sedangkan versi USA pakai Dunlop yang versi offroad. Maklum untuk KLX 150S dirancang untuk dual purpose, sedangkan KLX 140 versi USA itu murni versi offroad.

Lampu depan KLX 150 juga terkesan kedodoran alias kebesaran, seperti dipaksakan. Modelnya sih meniru KLX 450R. Cuma karena body KLX 150 adalah kecil, maka pemakaian lampu depan ala KLX 450R terasa kurang pas. Stang juga masih terbuat dari besi dan tanpa plang. Bentuknya terlihat janggal untuk ukuran motor trail yang diklaim sebagai tunggangan para petualang.

Ring roda belakang KLX 150 adalah 16, sedangkan depan 19. Trail ini sepertinya cocok untuk orang yang punya ketinggian tidak lebih dari 160 cm. Lebih dari itu, motor akan terlihat kekecilan. Kesannya kalau KLX 150 ini terlihat masih sedikit lebih kecil dibanding TS 125.

Dengan pengurangan spek tersebut, wajar kalau harga KLX 150 ”hanya” sekitar Rp 24 juta. Beda jauh dengan versi offroad USA/Jepang yang harganya hampir US$3000 atau sekitar Rp 35 jutaan. Sepertinya kawasaki Indonesia berusaha menekan biaya produksi, namun dengan menurunkan kualitas, dengan harapan harga KLX 150 lebih terjangkau bagi kebanyakan konsumen Indonesia dibanding kakaknya KLX 250S yang penjualannya tidak terlalu spektakuler.

Terlepas dari beberapa kekurangannya, KLX 150 pantas disambut hangat bagi penggila motor trail. Tinggal siapkan dana sekitar Rp 10 juta untuk upgrade KLX 150S menjadi versi offroad yang mumpuni untuk diajak berlumpur ria. Tapi yang jelas mesin dan suspensi KLX 140 yang dijejalkan di KLX 150S itu sudah terbukti kehandalannya, jadi bisa diandalkan di medan offroad.

Jumat, 17 April 2009

LA Light Indiefest Compilation Album Vol. 3


Sebuah kompilasi punya potensi untuk jadi album yang menyenangkan. Pasalnya, di dalam album tersebut, kita bisa menemukan beraneka ragam musik. Nggak terpaku pada satu warna semata.

Hal ini juga terjadi di album ini. Total 10 band yang menyumbangkan lagunya di album LA Light Indiefest Compilation Vol. 3 ini benar-benar tampil dengan warnanya masing-masing. Dan, rata-rata berbeda satu sama lain.
Beringas-nya C.U.T.S. sangat cocok dijadikan singel pembuka. Bermodalkan intro yang unik dan agak nakal, band asal Bandung ini mampu membuat pendengar tertarik untuk terus mendengarkan lagu lain di album ini.
Lantas ada I Don’t Care-nya Morning Blue yang menawarkan vokal menarik dengan cengkok yang mirip Giring Nidji. Morning Moon-nya Arcoirish yang sangat bernuansa british. Vickyvette yang style-nya mengingatkan kita band-band indie lokal ’90-an, dan Nemesis yang muncul dengan style metalcore dan jadi terasa “istimewa” di banding barisan lagu lainnya.
Barisan lagu di atas cukup punya potensi untuk dikenal. Namun, masih kalah menohok kalo dibanding Simon Says She Was Beautiful-nya Wai Rejected dan Karena Dia-nya The Banery. Entah kenapa, dua lagu ini jadi terasa spesial. Dengan aransemen yang pas dan pemilihan not yang tepat, bukan nggak mungkin lagu ini banyak disuka. Meski yang disebut terakhir masih sedikit mengingatkan kita pada Naif.
Hal yang nggak jauh beda bisa terdengar di singel Baik Untukku milik Sister Morphin. Muncul dengan aransemen yang “mahal” bikin nih lagu nggak lantas jadi standar. Begitu juga dengan Menari-nya Tiga Pagi yang muncul dengan sentuhan etnik yang nggak kampungan. Hasilnya cukup menyegarkan meski durasinya rada kelamaan.
Overall, album yang juga menampilkan Last Ellise sebagai salah satu pengisinya ini cukup menarik disimak. Bolehlah dicari, karena bisa digunakan menambah wawasan musik. Sekaligus bisa jadi bukti kalo musik Indonesia nggak stagnan dan masih terus berkembang.